Sosok Teknokrat Perhubungan, S. Ajie Panatagama Siap Pimpin Organda Riau 5 Tahun ke Depan
PEKANBARU, seputarriau.co — Dinamika organisasi mulai terasa di tubuh DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi Riau. Setelah 15 tahun dipimpin oleh H.M Nasir sejak 2012, tongkat estafet kepemimpinan DPD Organda Riau periode 2022–2027 akan segera berakhir.
Sesuai amanah AD/ART, dalam beberapa bulan ke depan DPD Organda Riau akan menggelar Musyawarah Daerah (Musda) XI. Agenda utamanya adalah penyampaian Laporan Pertanggungjawaban pengurus dan yang paling krusial: pemilihan Ketua DPD Organda Riau periode 2027–2032 beserta perangkat kelengkapannya.
Momentum 5 tahunan ini menjadi titik balik penting. Organda sebagai organisasi payung bagi pengusaha angkutan darat di Riau dituntut mampu menjawab tantangan zaman. Mulai dari digitalisasi layanan, krisis BBM, regulasi keselamatan, hingga persaingan logistik antar wilayah.
Di tengah situasi itulah, nama S. Ajie Panatagama, S.SIT, MT mulai menguat sebagai salah satu kandidat.
Sosok yang akrab disapa Ajie ini bukan nama baru di dunia perhubungan. Ia merupakan purna tugas Kementerian Perhubungan RI dengan jam terbang panjang, baik di pusat maupun di berbagai daerah.
Pengalaman birokrasi selama puluhan tahun itu menjadi modal utama yang ia tawarkan kepada para anggota Organda.
“Insya Allah saya siap maju. Ini bukan sekadar maju mencalonkan diri, tapi maju membawa tanggung jawab untuk membesarkan kembali Organda,” kata Ajie saat ditemui di Pekanbaru, Selasa (26/8/2026).
Menurutnya, Organda saat ini harus bertransformasi. Tidak bisa lagi hanya menjadi organisasi seremonial. Organda harus menjadi "rumah" yang benar-benar melindungi, mengayomi, dan memperjuangkan kepentingan anggotanya.
“Organda harus kembali menjadi rumah besar bagi pengusaha angkutan. Kita butuh kepemimpinan yang mampu menjembatani 3 kepentingan sekaligus: pemerintah, pengusaha, dan masyarakat pengguna jasa,” tegasnya.
Tantangan Berat Menanti Nahkoda Baru
Ajie menyadari betul, tantangan yang akan dihadapi pengurus baru periode 2027-2032 tidak ringan.
Sebagai mitra strategis pemerintah, Organda selama ini punya 3 peran utama:
Pertama, ikut merumuskan kebijakan seperti penetapan struktur tarif angkutan.
Kedua, menata trayek mulai dari pusat hingga kabupaten/kota agar tidak terjadi tumpang tindih.
Ketiga, menjaga stabilitas sosial ekonomi antara pengusaha, masyarakat, dan pemerintah.
Namun ke depan, persoalan akan semakin kompleks. Isu kelangkaan dan mahalnya BBM, implementasi aturan zero ODOL, digitalisasi logistik, hingga tuntutan pelayanan yang semakin cepat dan murah menjadi pekerjaan rumah besar.
“Saat ini Organda berada di posisi yang serba sulit. Di satu sisi harus patuh pada aturan pemerintah sebagai regulator. Di sisi lain harus melindungi keberlangsungan usaha anggota, dan di saat yang sama juga menjamin masyarakat tetap mendapatkan layanan transportasi yang stabil dan terjangkau,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan itu, Ajie membawa konsep utama: "Kolaborasi 3 Pilar". Konsep ini menitikberatkan pada penguatan hubungan sinergis antara Pemerintah sebagai Regulator, Pengusaha sebagai Operator, dan Masyarakat sebagai User.
“Hubungan kemitraan ini harus kita hidupkan kembali. Kolaborasi bukan sekadar bekerja bersama, melainkan cara kerja yang saling terhubung dan saling mendukung untuk satu tujuan: melayani kebutuhan mobilitas masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya membenahi dapur internal Organda terlebih dahulu. Menurutnya, tanpa kekompakan internal, mustahil Organda bisa bernegosiasi kuat dengan pihak eksternal.
“Bagaimana mewujudkannya? Langkah awalnya adalah mengembalikan hubungan harmonis dan kekompakan antar pengurus dan anggota seperti dahulu. Dari situlah kita bangun kekuatan untuk melangkah lebih luas, baik ke pemerintah maupun ke masyarakat,” tegas Ajie.
Dengan bekal pengalaman di Kemenhub dan pemahaman terhadap persoalan di lapangan, Ajie mengaku sudah menyiapkan draft program kerja. Fokusnya ada pada 3 hal: penguatan kelembagaan, advokasi kebijakan, dan peningkatan kesejahteraan anggota.
Ia optimis, dengan kepemimpinan yang baru, Organda Riau bisa menjadi organisasi yang lebih kuat, solutif, profesional, dan berwibawa.
“Dengan ilmu dan pengalaman yang saya miliki, saya siap mengabdi. Tujuannya satu: mewujudkan eksistensi terbaik bagi Organda dan kebermanfaatan nyata bagi seluruh pengusaha angkutan darat di Riau,” pungkasnya.
Musda XI DPD Organda Riau pun kini dinanti. Bukan hanya sebagai ajang pemilihan, tetapi sebagai momentum konsolidasi dan regenerasi untuk memastikan Organda tetap relevan dan menjadi garda terdepan dalam menjaga denyut nadi transportasi darat di Provinsi Riau.
Penulis: Muhammad Nasir




Tulis Komentar